Jihad atau Apalah itu

mountain-1210900_640.jpg
pixabay.com

Semakin aku bertemu dengan pelbagai orang, lembaga, komunitas, lingkup dan sejenisnya. Semakin aku sadar bahwa bermanfaat, tak melulu harus dalam takaran makro.

Misalnya, menjadi pejabat publik. Pemimpin di sebuah organisasi. Atau, menjadi nomor wahid dalam prestasi akademik maupun bidang lain.

Beberapa waktu lalu, aku berbincang dengan Pak Winarno. Beliau dulu mualaf. Sekarang teguh memegang agamanya yang baru. Dalam kurun waktu mungkin sekira setengah jam, aku dan beberapa orang yang berkunjung ke tempatnya berbincang.

Pak Win, sapaan akrabnya, kini mengelola pesantren lansia di desa Gedong, kecamatan Banyubiru, kabupaten  Semarang. Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat namanya. Sebagai orang yang minim pengalaman, aku terkejut, ada orang yang berpikiran membuat pesantren untuk orang-orang tua.

Di saat orang giat-giatnya membuat pesantren untuk anak-anak atau remaja selaku generasi penerus, Pak Win dan beberapa rekannya justru membuat pesantren untuk orang tua. Meski mereka sudah renta. Dan secara kasar dapat dikatakan ‘tinggal menunggu ajal’. Kita patut terus menjaganya, menghormatinya, dan memberikan perhatian dan rasa cinta.

Mungkin demikian. Atau mungkin justru kesadaran bahwa mereka kini renta, dan kerentaan mereka tempo waktu, mereka gunakan untuk bekerja, membiayai hidup dan mendidik keluarga. Maka sudah menjadi kewajiban kita untuk terus merawatnya. Dan memastikan di hari senjanya dibekali ilmu agama atau paling tidak, memastikan mereka tak kesepian.

Soal pesantren lansia ini, mungkin akan kuceritakan di lain kesempatan. Perhatianku kini ada pada Pak Win. Yang setia menjaga perannya mengelola pesantren untuk orang tua.

Bagiku, kesediaan Pak Win manjaga itu perlu kita tiru. Tentu tidak pada konteks mendirikan pesantren untuk lansia. Tapi pada kesetiaan mencari sekaligus menjaga perannya untuk bermanfaat bagi sesama.

Nuwun sewu, dalam kehidupan kita belakangan. Atau mungkin sejak peradaban ini dimulai. Tak jarang kita mendapati orang tua tak terurus. Meski mereka pernah berjasa untuk keluarga. Terutama anak-anaknya. Tak menjadi jaminan masa tuanya mendapat perhatian.

Itulah barangkali alasan mengapa terus berdiri panti jompo. Atau pesantren lansia serupa dengan pesantren yang dikelola Pak Win. Yang tentu jumlahnya masih sedikit.

Ruang kosong itu dimanfaatkan beberapa orang untuk mengambil peran. Menyebarkan kebaikan. Dan cinta kasih. Dalam tataran mikro-lingkup.

Termasuk Pak Win. Mengambil peran kecil: lansia yang membutuhkan ruang belajar agama. Menenangkan diri. Dan mengusir sepi. Peran ini jauh dari ‘layar kaca’. Dan gegap gempita politik, ekonomi dan agama belakangan di media.

Aku yakin banyak pos-pos yang sudah terjaga. Oleh masing-masing ahlinya. Tapi tak sedikit pula pos-pos yang masih membutuhkan orang untuk mengisinya.

Kita tak perlu turut serta secara aktif dalam politik praktis. Sudah terlalu banyak orang memasuki dunia itu. Dari mulai intelektual hingga wirausahawan. Bahkan para pengusaha milenial pemilik prestasi nasional dan internasional yang digadang-gadang merupakan role model bagi generasi sekarang, belakangan seperti ‘dipaksa’ untuk turut urun rembug di istana. Dengan pelbagai kepentingannya yang saling berebut. Dan belum tentu bisa maksimal menyerap jiwa muda mereka. Sebagaimana di bidang yang dulu mereka tekuni.

Demikian, turut serta membangun negara bisa dari mana saja. Sesuai porsi dan keahlian masing-masing. Habib Husein Ja’far Al-Hadar, seorang penulis, pendakwah, dan kreator konten milenial berpesan dalam video yang belakangan dia unggah di kanal Youtubenya: Jeda Nulis.

Video berjudul “Jihad Basa-basi” tersebut berisi obrolan singkat bersama pemilik penerbitan buku, pengusaha dan penulis asal Yogya: Pak Edi Mulyono. Atau dalam tulisannya kita kenal Pak Edi AH Iyubenu. Aku mengidolakan dua tokoh tersebut.

Video tersebut, barangkali bertujuan untuk mengingatkan kita. Akan pentingnya mencari peran dan keahlian masing-masing. Dan menggelutinya, sebaga jalan ‘jihad’.

Bagiku, Habib milenial ini ingin meredefinisi makna ‘jihad’ yang belakangan disempitkan hanya pada ranah ‘perlawanan terhadap kezaliman’. Atau bahkan pada tindakan kekerasan verbal atau fisik.

Habib menyambungkan dengan jihad Pak Edi saat ini: menerbitkan buku-buku akademik dan pemikir dari pelbagai kalangan; membangun kafe ramah pengunjung dan jadi ruang diskusi; atau kegiatan bermanfaat lain. Dan tentu saja menulis.

“Jihad nggak usah muluk-muluk. Anda yang berada di jalanan, berjihadlah dengan memindahkan paku di tengah jalan ke pinggir. Kalau ada antrian kita tertib. Kemudian membuang sampah pada tempatnya. Malam harinya, memaafkan orang yang sehari ini berhubungan dengan kita. Sederhana dan kecil, tapi harus dijaga secara istiqomah, sehingga manfaatnya besar untuk peradaban.” ungkap Habib.

Aku sepenuhnya sepakat. Maka itulah aku sekilas, mengulas tentang jihad Pak Win dalam merawat lansia. Bahasa congkaknya: memastikan para lansia yang hidup di sana mati secara khusnul khatimah.

Kita tentu menyadari. Bagaimana publik terus digiring untuk seolah harus terlibat secara aktif dalam seluruh persoalan negara. Khususnya politik dan agama. Kita melihatnya di medsos. Orang sibuk mengurusi setiap yang muncul di depan mata mereka. Kita mengkritik kepada ahli sebagai awam tentang seluruh persoalan. Berpikir lebih baik. Lebih suci. Mengaminkan ‘matinya kepakaran’.

Bukan berarti kita tak boleh bersuara. Tapi kita juga perlu menyadari peran kita. Jihad kita. Mengkritik pun, harus dilandasi moral etik. Bukan intelektual etik. Yang tentu tak mesti kita memilikinya. Menguasainya.

Kukira sudah banyak contoh sekarang. Orang-orang setia menjaga peran. Dan melakukan jihad kecil di jalan masing-masing. Kita hanya perlu mencari. Tak harus langsung menemukan. Dan langsung setia terhadap satu jihad yang kita jalani. Teruslah mencari. Di lingkup-lingkup kecil yang tak disadari. Bermanfaatlah. Niatkan untuk Allah dan RasulNya. Sulit. Tapi begitulah kita hidup. Never ending process. Never ending search.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s