Sutopo: Teladan Kesalehan Intelektual

images
Presiden Jokowi bersalaman dengan Sutopo Purwo Nugroho (presiden.go.id)

Sutopo Purwo Nugroho (1969-2019) Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meninggal pada Minggu, 7 Juli 2019 di Guangzhou, Cina. Kabar kematian tokoh peraih The First Responders 2018 dari harian terkemuka Singapura, Straits Times, atas dedikasi dalam menanggapi bencana alam di Indonesia mengguncangkan duka bagi Indonesia dan dunia.

Tak pelak, media internasional (seperti The Straits Times, ABC News, The Guardian, hingga The New York Times) turut mengabarkan kabar kematian tokoh yang sudah divonis mengidap kanker paru-paru stadium IV sejak awal 2018 lalu itu.

Takdir kematiannya, memberi semaian ingatan tentang bencana di Indonesia dan dunia yang terus bergerak, sejalan dengan ‘kemaksiatan ekologis’ manusia yang terus dilanjutkan. Kepergian tokoh yang ujarannya paling sering dikutip oleh media ketika bencana alam melanda Indonesia juga memberi teladan tentang makna kesalehan intelektual.

Ya, di zaman dengan pelbagai catatan mengerikan tentang kondisi alam ini, tentu kesalehan sosial apalagi kesalehan spiritual saja belum cukup memadai untuk menghadapi ancaman punahnya kelestarian hidup di bumi.

Melalui Sutopo, Tuhan memberi kesadaran penting tentang bagaimana manusia mesti berlaku di situasi mutakhir melalui intelektualitasnya.

Kesalehan Intelektual Sutopo

Perjalanan karir intelektual dibentuknya sejak masih kecil dengan mengisi hari-hari sebagai penggandrung buku-buku. Itu diakui oleh Ayahnya, Suharsono yang melihat anaknya begitu semangat dalam menyelesaikan pendidikan. Terbukti pendidikan S-1 ia selesaikan di Geografi UGM Yogyakarta, sedang S-2 dan S-3 ia selesaikan di Hidorologi IPB Bogor.

Hingga akhirnya, ia nyaris menapaki puncak karir intelektual dan dikukuhkan sebagai profesor pada 2012 berkat sumbangsih karya ilmiahnya, namun, hal itu kandas lantaran ‘gagal’ dalam urusan teknis di birokrasi. Ia menyayangkan birokrasi yang menghambat dan kaku dalam menerapkan aturan yang berlaku, padahal riset yang dilakukannya terus menerus itu akan dapat menjadi contoh apabila dirinya jadi dikukuhkan sebagai Profesor oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu.

“Padahal kalau mau jujur, apa yang saya lakukan di BNPB itu melebihi riset daripada sebagian peneliti di LIPI dan BPPT sana. Bayangkan saya memantau tiap hari bencana. Begitu ada bencana saya analisis. Pengetahuan saya, saya curahkan. Langsung saya berikan ke media, masyarakat dan pimpinan, termasuk Presiden. Teori-teori yang ada kita terapkan langsung di lapangan. Hasilnya saya tulis dalam buku, rilis dan makalah. Apa itu bukan penelitian?” terang Sutopo dilansir melalui detikcom.

Meski diakui oleh Sutopo kecewa, ia tetap berdiri di garda terdepan dalam menganalisis tiap bencana yang terjadi di Indonesia. Dan merilisnya melalui keterangan resmi BNPB, media massa, karya tulis ilmiah dan buku. Kesetiannya dalam mengawal bencana bahkan ia buktikan ketika dirinya masih terbaring di ruang operasi. Dengan keadaan sakit, ia tetap memberi informasi terbaru tentang keadaan bencana yang terjadi di Palu dan Donggala, Sulawesi hingga Tsunami di Selat Sunda pada 2018 lalu. Kerja keras yang begitu besar di tengah kondisi alam Indonesia yang terus berubah.

Selain itu, kerja intelektual Sutopo juga berperan penting ketika hoaks tentang bencana merebak seiring dengan gandrung dan mudah viralnya suatu kabar melalui media sosial. Melalui akun twitter resminya, ia rajin meng-update dan mengklarifikasi kabar terbaru tentang bencana di Indonesia. Atau pun kondisi secara riil di tempat yang tengah mengalami bencana. Dari mulai bencana susulan, kondisi sosial-masyarakat hingga bantuan-bantuan resmi yang hendak menuju lokasi bencana.

Ketika ia meng-update kabar bencana itu, jutaan pengguna media sosial ikut me-retweet atau me-repost sehingga mengurangi dampak ketakutan pada masyarakat setempat yang tengah kalut menghadapi bencana.

***

Kesalehan intelektual mengasumsikan pengembangan ilmu pengetahuan seluas dan sempiris mungkin sebagai upaya meluhurkan akhlak dan kemanfaatan untuk sesama. Melalui Sutopo, kita dapat melihat kerja intelektual yang tak mengenal lelah dan pamrih. Biografinya membentuk pandangan hidup tentang gelar yang tidak berarti segalanya, selaras dengan ungkapannya tentang bagaimana kita harus terus bermanfaat untuk sesama.

Ini memberikan teladan kesalehan intelektual di tengah masyarakat akademisi yang haus ‘pengakuan’ dan indeks penilaian jurnal nasional hingga internasional. Tetapi minim laku dan kerja intelektual itu untuk kemajuan dan kemanfaatan masyarakat.

Orang-orang seperti Sutopo adalah orang-orang yang berhasil membangun kesalehan intelektual. Kokohnya bangunan kesalehan intelektual memungkinkannya berada di titik kulminasi kesadaran tentang kesalehan sosial bahkan kesalehan ekologis yang kini juga membutuhkan penanganan darurat seiring dengan kondisi alam yang makin rentan. Orang-orang seperti itu, bukan hanya akan memikirkan keselamatan diri sendiri, melainkan juga berbuat untuk kemaslahatan orang lain.

Sejarah telah mencatat Sutopo Purwo Nugroho sebagai pengabdi intelektual dan penjaga bencana di Indonesia. Tetapi, sosoknya kini telah pergi. Kita berkewajiban menjadi atau melahirkan Sutopo-Sutopo baru dengan kegigihan, dedikasi dan kerja keras di bidang kita masing-masing.

Selain doa untuk keselamatannya di alam selepas ini, kita patut menyelamatkan biografi, jasa, peran dan pemikirannya dalam keberjalanan teladan dan tokoh inspiratif negeri, terutama dalam geliat bencana di Indonesia yang terus mendera. Kita bersyukur Indonesia pernah melahirkan Sutopo. Al-Fatihaah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s