Sastrawan Salah Pergaulan; Puthut EA

_20191201_095429.JPG
Dokumen Pribadi

Kalau kamu tengah bebal dan mumet membaca buku-buku sastra, khususnya prosa yang ndakik-ndakik dan njlimet plotnya, aku sarankan untuk segera membaca buku ini: Sastrawan Salah Pergaulan karya Puthut EA. Salah satu buku kumpulan cerita mutakhir penulis yang juga Kepala Suku media daring Mojok.co ini konon merupakan buku semacam ‘Para Bajingan yang Menyenangkan’, novel yang kondang karena ceritanya yang jenaka.

Aku memang belum rampung membaca novel itu. Namun kata ‘jenaka’ yang terlabeli pula dalam kumpulan cerita yang kemudian kuselesaikan pembacaannya hanya dalam sekali duduk ini, membuat kumantuk-mantuk menyetujuinya. Cerita-cerita dalam buku ini, dapat menyegarkan pikiran kita dari jubelan kisah fiksi yang terlalu filosofis atau hiper-realitas atau absurd atau sejenisnya.

Buku ini memuat enam belas cerita. Nyaris semuanya jenaka. Setidaknya menurutku. Ada empat tokoh sentral yang menjadi pemandu kejenakaan itu: Unggun, Andy eSWe, Kromoleo dan Dodo. Mereka bukan berada dalam satu cerita yang bersambung. Melainkan punya cerita masing-masing.

Unggun atau biasa dipanggil Katolik menyumbang empat cerita. Andy eSWe tujuh cerita, Kromoleo empat cerita, dan Dodo satu cerita. Tentu yang paling jenaka menurutku cerita-cerita bertokoh Andy eSWe.

Keempat tokoh tersebut sejauh pembacaanku terhadap tulisan yang berseliweran di media daring penulis, memang benar berada di dunia nyata. Di dunia si penulis. Mungkin begitu pula kejenakaan mereka. Dan penulis berhasil menuliskan kejenakaan mereka dengan baik.

Kita mulai dengan kisah Unggun atau Katolik. Unggun merupakan adik tingkat di fakultas filsafat penulis. Atau kita sebut narator. Kebanyolannya nampak juga karena orang-orang di sekitarnya. Si narator dan Kardono. Ada insiden ketika jamaah tablig yang biasa mengajak anak-anak kos untuk salat berjamaah mengajak Unggun dan Kardono. Unggun seorang Katolik. Namun, oleh Kardono ditunjuk bahwa Unggun Islam. Akhirnya Unggun diajak Salat. Unggun ngedumel.

Kemudian kisah ketika Unggun menggelisahkan eksistensinya di hadapan kawan-kawannya. Alih-alih menggelisahkan masa depannya yang merupakan mahasiswa filsafat. Ia sempat menghilang agar dicari. Kenyataannya teman-temannya justru abai soal itu. Unggun menyesal sendiri pernah hilang dan justru perannya digantikan orang lain.

Satu kutipan di salah satu kisah cinta Unggun dalam cerita “Kisah Tiga Asmara”yang menurutku nggapleki:

“Benar, ternyata hidup ini tak adil.”

“Maksudmu apa, Nggun?” tanya Kardono penasaran.

“Lha kuwi, atas dasar apa wong tuwane mantanku ‘kon anake mutus hubungan ro aku?”

“Lha, kan jelas. Anake ayu, sementara kowe remuk. Bocahe nduwe masa depan, koe lulus wae rung karuwan. Tur nek lulus, ya ra ngerti meh kerja apa. Justru nek kowe rabi ro mantanmu kuwi, itulah yang disebut ketidakadilan. Paham rak kowe, Nggun?” tanya Kardono sengak.

Kita lanjut ke kisah Andy eSWe. Ini lebih banyak lagi yang lucu. Aku ceritakan saja satu yang paling lucu menurutku. Yakni ketik Andy ini mengajak Bung Kus nyoto pagi-pagi. Dengan gaya menjilatnya, ia berhasil mengajak Bung Kus berangkat ke warung soto. Menggunakan vespa Bung Kus. Di tengah jalan, dicegat oleh polisi. Bung Kus lupa tak membawa dompet. Bung Kus tak habis pikir, Andy ternyata  juga sama tak membawa dompet. Padahal Andy yang mengajaknya nyoto. Ternyata minta digratisi.

Andy punya inisiatif. Ia meminjam uang ke bakul dawet dengan jaminan jaket yang dikenakan Bung Kus. Dan mengatakan akan membayar pinjamannya dari bakul dawet itu. Tiba-tiba Andy malah membawa Bung Kus ke rumah Pak Ong. Meminta uang kepadanya untuk membayar pinjaman uang. Bung Kus yang merasa jaketnya berharga, langsung ngeblas ke bakul dawet. Sementara Andy di rumah Pak Ong. Giliran Pak Ong yang digarap Andy biar menggratisinya nyoto dan ngobrol kebudayaan. Pak Ong yang perasa setuju saja. Sementara di tempat lain Bung Kus mumet. Uang yang dikasih Andy masih kurang untuk mengembalikan jaminan jaketnya. Sebab, si Andy ternyata bukan saja minjam uang buat mbayar Polisi tapi juga minum es dawet. Andy telep-telep makan soto dan sate usus. Bung Kus masih kluntang-kluntung.

Ada cerita-cerita lain yang tak kalah jenaka. Salah duanya berjudul “Senimang Andi Eswe” dan “Strategi Kopoken”. Cerita tokoh lain, Kromoleo misalnya, juga cukup jenaka. Tapi kejenakaannya tak begitu berkesan bagiku.

Rasanya akan gagal jenaka apabila aku terlalu banyak menceritakan kembali kisah-kisah dalam buku ini. Ndang, teman-teman yang tengah putek, bacalah buku ini. Yang tengah malas membaca prosa-prosa ndakik, bacalah. Siapa tahu bisa menyegarkan pikiranmu, bahkan membuatmu nyekikik sendiri sepertiku. Atau, barangkali dapat mengentaskan bayangan tentang hari lalu yang menyedihkan dan masa depan yang mengkhawatirkan.

Oh iya buku ini punya peringatan khusus: Kisah-kisah dalam buku ini mengandung bahasa Jawa. Peringatan cukup penting di sampul belakang buku. Bagiku nyaman-nyaman saja karena aku mengerti ragam bahasa Jawa berlatar Yogya.

Buku ini cuma 105 halaman. Bisa dibaca sambil yang-yangan. Wqwqwq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s