Perihal Banjir, Bencana dan Kemaksiatan Ekologis yang Mesti Kita Sadari

5e0c691bc3535
Tampilan banjir Jakarta di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur, dari helikopter yang mengangkut Kepala BNPB Doni Monardo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, saat mereka meninjau kondisi banjir terkini pada Rabu (1/1/2020).(DOKUMENTASI BNPB diambil dari kompas.com)

Setiap kali terjadi bencana di Indonesia, saya sedih. Lebih sedih lagi apabila bencana yang terjadi justru dipolitisasi oleh elit. Atau dijadikan sebagai alasan untuk dapat terus menyalahkan pemerintah oleh masyarakat.

Sudah saatnya kita melihat banjir yang melanda ibukota dan sekitarnya belakangan ini, atau bahkan bencana antropogenik lain, sebagai akibat dari rangkaian ‘kemaksiatan ekologis’ yang dilakukan oleh manusia. Artinya, terjadinya banjir berskala cukup besar ini tidak hanya kita pandang sebagai kesalahan pemerintah karena kegagalannya memenuhi janji politik mereka, tetapi juga kesalahan manusia yang gagal mengelola alam (yang katanya kita cintai ini) dengan baik.

Pemerintah sebagai instutusi dengan kekuasaan yang besar dan diberi tanggung jawab mengelola tata wilayah agar kondusif, sudah barang tentu memiliki tanggung jawab yang paling besar.

Namun, dalam beberapa hal, kita tak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka. Kita mungkin mendaku bahwa kita murni, suci dan kalis dari tindak memerlakukan alam secara serampangan. Namun, bertanyalah pada diri kita sendiri: sudahkah kita mengelola lingkungan di sekitar kita dengan baik? Sudahkah kita mengetahui pengelolaan sampah rumah tangga di tempat tinggal kita? Sudahkah ia dikelola dengan ramah lingkungan?

Sebab instruksi ‘jangan membuang sampah sembarangan’ bagi saya terlalu kuno.  Instruksi itu seolah mendorong kita bertindak egosentris. Hanya melihat masalah lingkungan dari ‘sejauh yang kita pandang’. Kita tak melihat apakah sampah yang kita buang mencemari rumah tetangga, atau septic tank tempat pembuangan air limbah domestik kita turut memperburuk kualitas air dan alam di sekitar?

Maka, bencana ini seyogiayanya kita jadikan muhasabah kolektif bahwa ada relasi tidak adil antara manusia dan alam.

Manusia yang didapuk sebagai khalifatul fil ardii justru acap merasa bahwa keberadaan alam, semata untuk memuaskan nafsu kita yang tak pernah habis.

Ketika industri masuk ke sebuah daerah, fokus kita selalu pada investasi dan keuntungan ekonomis yang bakal didapat, bukan pada berapa hektar hutan hijau yang akan dibabat. Ketika pembangunan dilakukan, fokus kita pada seberapa mudah akses kita melangsungkan kegiatan ini dan itu, bukan berapa sawah atau lahan pertanian yang dilenyapkan.

Ketika pabrik-pabrik bermunculan di daerah yang belum terjamah, yang terbayang di kepala kita adalah kesempatan kerja bagi orang-orang di sekitar. Padahal, alam punya potensi yang besar untuk memajukan masyarakat agar tidak bergantung sebagai buruh pabrik, tetapi sebagai garda terdepan penjaga keseimbangan ekologis dan kedaulatan pangan.

Baru-baru ini saya menonton video dokumenter dari Mongabay Indonesia, lembaga penyedia ragam berita konservasi dan sains lingkungan berbasis non-profit. Video berjudul ‘Kesepakatan rahasia hancurkan surga papua’ itu mendokumentasikan salah satu daerah di Papua bernama Boven Digoel yang diekploitasi secara paksa oleh korporasi. Daerah tersebut dihuni oleh masyarakat adat Suku Auyu. Suatu waktu, menurut keterangan masyarakat, sejumlah orang datang bersama polisi dan tentara. Mereka mensosialisasikan proyek perkebunan kelapa sawit di daerah tersebut.

Alih-alih mensosialisasikan, model yang mereka gunakan justru seperti pemaksaan. Sebab, dengan waktu terbatas yang diberikan kepada masyarakat untuk berbicara dan belum adanya perbincangan dari pemerintah bahwa akan dibangun beberapa proyek di daerah yang mereka huni, masyarakat semakin inferior untuk menyampaikan aspirasinya.

Beberapa waktu kemudian, perusahaan mengirimkan beberapa orang dan membawakan uang miliaran rupiah yang sebenarnya tak dibutuhkan oleh masyarakat adat suku Auyu. Mereka lebih memilih alam itu dikembalikan seperti sedia kala. Namun, kini hutan hujan yang luasnya setara empat kali Provinsi DKI Jakarta ini sudah mulai dihancurkan. Tunas-tunas sawit tengah tumbuh di atas tanahnya.

Begitulah selama ini kita memandang inferior alam yang kita huni. Relasi tidak adil pada alam secara lembut sudah kita yakini keabsahannya. Relasi itulah yang pada gilirannya mendorong kita bertindak ekploitatif. Memandang alam hanya sebagai perantara manusia menentukan nasibnya. Memajukan peradabannya. Dan memuluskan orientasi nafsunya.

Sebagai manusia yang mengaku lebih maju dan berintelektual, semestinya kita belajar dari Suku Auyu yang memandang hutan hijau memainkan peranan penting untuk kelangsungan hidup. Bukan hanya untuk manusia, melainkan juga untuk alam dan ekosistemnya.

Saya yakin masing-masing kita bersedih dengan keadaan alam kita hari ini. Bersedih terjadi banjir di ibukota dan sekitarnya. Sebagian mengutuk pemerintah yang gagal menanggulangi masalah banjir dan elit politik yang berlomba-lomba cari muka di depan masyarakat untuk kepentingan suara dan elektoral. Sebagian dari kita masih terdiametral dalam kubu-kubu politik: pemerintah mana yang patut dipersalahkan atas kejadian bencana yang parah dan tak berkesudahan ini. Sebagian lagi, mungkin lebih kecil, menyadari bahwa alam yang kita huni sudah tak baik-baik saja. Perlu kiranya manusia bertaubat atas kemaksiatan ekologis yang dilakukannya. Dan sedikit demi sedikit berikhtiar menormalisasi alam yang kadung dihancurkan.

Dalam bencana ini, mengutip budayawan Prie GS di akun facebooknya, kita bisa menjadi apa dan siapa saja. Bisa menjadi korban walau telah berusaha menyayangi alam dan seisinya. Bisa menjadi pelaku para pembuang sampah serampangan sampai penebang hutan liar yang kemudian ikut berbelasungkawa setidaknya lewat sosial media. Kita juga bisa menjadi politikus yang mendatangi lokasi demi rating dan konstituensi Kita bisa menjadi rohaniwan yang menggemakan azab dan karma. Bisa menjadi Instragamer pemburu background demi panen likers. Kita bisa pula menjadi anak-anak yang bergembira senantiasa di keadaan apa saja. Tetapi tersulit dari itu semua ialah menjadi manusia yang merawat manusia jikapun tak dilihat manusia.

Dalam sebuah bencana, kita bisa menjadi korban. Bisa juga menjadi pelaku. Namun, tak perlu merasa suci. Mari sama-sama sadari bahwa kita berdosa pada alam yang kita huni.

 

5 Januari 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s