Ibadah

 

the-minaret-of-the-mosque-3346487_640
pixabay.com

Seorang pemuda, baru saja diamanahi menjadi ketua takmir di sebuah masjid di suatu perumahan kota. Baru sebulan pemuda itu ‘menjabat’, banyak warga yang puas dengan kinerjanya. Ia pun mendapat banyak pujian.

Menurut beberapa penuturan warga, selain disiplin perkara waktu salat, pemuda itu memang gesit dalam mengadakan acara-acara di masjid. Dari mulai mengundang guru ngaji buat anak-anak. Sampai pengajian-pengajian tematik untuk orang tua.

Infak kotak masjid yang dulu selalu ramai terisi, tetapi cenderung sepi pengeluaran akhirnya dapat dimanfaatkan dengan tepat. Maklum, dana operasional bulanan seperti kebersihan, listrik, air dan lain-lain nyaris bukan halangan berarti untuk masjid tersebut, karena biayanya yang tak seberapa dan sudah ada dermawan yang tiap bulan menutupi kebutuhannya.

Pucuk dicinta, ulam tiba. Apa yang dilakukan pemuda itu melebihi ekspektasi para warga. Masjid ramai oleh kegiatan-kegiatan keislaman. Tiap magrib, anak-anak bersemangat belajar alif ba ta karena metode dan format yang mengasyikan. Yang mengajar pun, masih muda. Seorang penghafal Quran kawan pemuda takmir.

Akhir pekan, bakda subuh, warga berbondong-bondong ke masjid. Mendengarkan pengajian yang diisi oleh seorang Kiai yang diundang oleh si pemuda. Pengajian tersebut diminati lantaran sehabis pengajian, takmir menyediakan bubur gratis untuk para jamaah.

Pengajian yang mulanya dihadiri oleh orang-orang tua, akhirnya juga diminati oleh para bocah demi menggasak bubur gratis. Bocah-bocah pun berangkat bersama orang tuanya.

Forum itu pun akhirnya menjadi rekreasi akhir pekan para warga. Sekaligus ajang mereka untuk saling bersilaturahmi. Sementara bocah-bocah asyik berlarian dan bermain di sekitar masjid, para orang tua duduk-duduk di teras sembari mengobrolkan pekerjaan atau topik-topik lain yang mengakrabkan.

Suasana perumahan yang mulanya sepi, kecuali ketika pagi saat orang-orang berbondong-bondong berangkat kerja dan anak-anak berangkat sekolah, serta sore hari ketika mereka pulang, akhirnya menjadi ramai dan menghangatkan.

Mendapat apresiasi baik dari para warga, pemuda itu pun senang. Dua bulan ke depan, bulan puasa datang. Ia memiliki ide untuk semakin meramaikan masjid. Ia pun akhirnya sowan, meminta pendapat ke Kiai yang biasa ia undang tiap pekan untuk mengisi pengajian.

“Pak Yai, puasa tahun ini saya pengin bikin acara Tahajud jamaah di masjid. Bagaimana pendapat Pak Yai?”

“Terus, para warga dibangunkan tiap malam?”

“Begitu, Pak Yai,”

“Tujuanmu apa?”

“Yaa, meramaikan masjid Pak Yai. Bukannya bagus kalau malam-malam di bulan ramadan orang-orang ramai beribadah? Masjid ramai dengan tadarusan, kajian dan kegiatan-kegiatan Islami lain?”

“Ya bagus. Tapi, saya ngga setuju, Mas.”

“Lho, Pak Yai ini gimana?”

“Menurutmu para warga itu, kalau tiap siang bekerja ibadah bukan?”

“Ya, bisa dibilang ibadah juga Pak Yai,”

“Nah, itu kamu tahu sendiri. Ibadah kan ngga semuanya di masjid. Di kantor, di sawah, di keluarga, semuanya ya ibadah. Kalau orang-orang yang seharian bekerja itu kamu paksa ibadah bersama di malam harinya, kemudian ngga ada waktu banyak buat istirahat atau mengobrol dengan keluarga, atau juga malah bikin sakit dan kinerjanya di kantor ngga maksimal apa itu bukan merugikan yang lain? Apa laku merugikan itu disenangi oleh Allah?”

“Merugikan dan ngga disenangi Allah Pak Yai,”

“Nah begitu. Bikin acara buat meramaikan masjid itu bagus. Tapi ngga usah aneh-aneh. Ngga usah membuatmu berpikir kegiatan lain bukan ibadah. Kalau pikiranmu hanya yang di masjid yang beribadah, kamu malah bisa-bisa sombong. Menganggap orang-orang yang bekerja itu gila dunia. Padahal mereka bekerja buat menghidupi keluarganya, kewajiban yang juga diperintahkan.”

Muka si pemuda merah padam. Kepalanya menunduk. Setelah berterima kasih atas sambutan dan wejangan yang disampaikan Pak Yai, pemuda itu berpamitan.

Selepas mencium tangan Pak Yai di pelataran untuk berpamitan, Pak Yai menepuk pundak si pemuda. Dan memberi wejangan terakhir.

“Nak, niat dan kerjamu jadi pengurus masjid sudah bagus. Namun ingat satu hal, jangan kotori laku muliamu itu dengan kesombongan karena sudah mendapat banyak pujian. Ngga ada tempat buat kesombongan di akhirat nanti,” tukas Pak Yai.

Sebelum melenggang pulang, ia kembali berterima kasih kepada Pak Yai. Kini hatinya lebih tenang. Dan bahagia atas pujian yang sempat dirasakannya, ia bubuhi dengan kewaspadaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s