Surat (II)

still-life-851328_640
pixabay.com

Ini bulan Maret, kau ingat?

Tiga tahun selepas kita tiba-tiba jalan bersama.

Aih! Jalan bersama. Apa-apaan. Tak ada kata ‘bersama’ di kamus kita. Aku atau kamu cuma saling melempar percakapan karena kesepian.

Ya, karena kesepian. Apa lagi? Sepanjang sejarah peradaban manusia, kesepian adalah musuh terbesar. Dari zaman Adam mencari kekasihnya Hawa, sampai Dilan menggombali Milea, kesepian menjadi momok menakutkan.

Konon, orang berisiko mati muda apabila bertahun-tahun merasakan kesepian. Itulah mengapa banyak dari kita–termasuk aku dan kamu–tak bosan saling berkabar, hanya untuk menuntaskan kesepian masing-masing.

Mari kembali ke sesuatu yang ingin kukatakan padamu.

Ini bulan Maret. Kau ingat?

Di bulan Maret, tiga tahun lalu, aku mengabarimu. Hendak pergi menyelesaikan persoalan dengan seseorang.

Kau ingat? Aku berangkat nyaris sore hari dan sampai di rumahnya ketika magrib tiba. Mencari kesempatan untuk berbicara dengannya. Namun, kau ingat kan? Hasilnya nihil.

Aku pulang hingga larut malam. Tubuhku basah kuyup. Sepanjang perjalanan, hujan deras mengguyur. Jas hujanku sudah rombeng. Walhasil, aku mesti puas berteman basah dan dingin.

Waktu itu kita masih berkuliah. Kau tahu, selain kegagalanku mempercakapkan apa yang sudah kurencanakan, ada hal lain yang membuatku kesal. Lampu jarak dekat motor yang kukendarai mati.

Aih! Aku lupa mengeceknya sebelum berangkat. Jalan menanjak dibarengi hujan lebat, membuatku seperti berkendara di lorong menuju neraka. Hahaha. Berlebihan? Biarlah. Toh waktu itu memang sedemikian menakutkan. Tapi syukurlah aku selamat. Buktinya masih hidup, haha hihi sambil ngopa ngopi sampai sekarang. Hehe.

Waktu itu, aku seperti lelaki payah–dan kenyataannya memang begitu–mencari pemaafaan dan pendamaian dengan setiap orang. Aku naif.

Namun, baik dulu maupun sekarang, aku tak menyesal. Selalu ada yang bisa kupertahankan meski hanya reruntuhan. Selalu ada yang dapat kukembalikan, meski keadaannya tak sama dan tak karuan.

Kau tahu, hari ini aku masih sering mimpi buruk. Aku tak bisa dan tak pernah bercerita kepada siapa-siapa. Seperti yang telah dikatakan: bagiku mimpi burukku, bagimu mimpi burukmu. Aku memutuskan menyimpannya rapat-rapat untukku sendiri.

Malam ini gerimis turun pelan. Aku sempat keluar dan mencium bau tanah yang biasa kita rindukan.

Sepanjang waktu tadi, aku di kamar. Bergantian menyentuh ponsel dan buku. Sesekali mencoba menulis di layar atau di buku yang kuletakkan di meja kecil dekat kasur.

Namun, tak satu pun ide terselip di kepalaku agar kutuliskan barang satu paragraf.

Akhirnya kuputuskan keluar berjalan kaki. Pergi entah ke mana, kembali entah pukul berapa.

Dulu, aku sempat melakukan ini ketika kamu tiba-tiba menghilang. Aku berjalan, menghitung langkah dan mengamati semua hal di sekitar. Aku sempat terduduk di sebuah taman dan bersembunyi di balik pohon yang jumlahnya sedikit. Kau tahu, di situlah aku sempat menteskan air mata. Tak banyak yang bisa kukeluarkan, karena apa yang ada di dada terasa lebih panas ketimbang di mata.

Aku pulang selepas berjalan melintasi gang-gang di sekitar kontrakanku. Di jalan, aku sempat memotret lampu jalan yang remang dan mengingatkanku akan banyak percakapan.

Sesampainya di kamar, kucek kembali ponsel. Membuka aplikasi Whatsapp, kujumpai obrolan di grup yang semakin banyak. Aku malas membukanya.

Kurebahkan tubuhku di kasur yang empuknya seperti kasih sayang ibu.

Kau tahu, aku hanya ingin mengatakan bahwa, aku tak punya banyak pilihan untuk menyerahkan perasaan. Baik dulu maupun sekarang.

Aku sehat, baik-baik saja, masih sering berolahraga, sebulan sekali membeli buku dan membacanya.

Beberapa kali dalam sepekan, aku ngopi dengan teman-temanku. Mengobrol tentang apa saja. Aku juga masih punya banyak mimpi, meski bukan orang yang pandai bekerja keras, aku masih ingin mewujudkannya.

Kau ingat, di tulisan ini, aku bilang, aku masih sering mimpi buruk. Tapi itu tak mengubah apa-apa dalam ritme hidupku yang sekarang. Aku biasa-biasa, sedih sesekali. Selebihnya aku lega.

Di mana pun, kudoakan kamu baik-baik saja. Aku yakin, semua orang butuh keadilan dan kebahagiaan. Keduanya kudoakan melekat terus di hidupmu.

Kamu bilang agar aku membuka, tapi aku belum bisa. Dan itu tak masalah sama sekali. Aku tak bisa memilih kepada siapa hatiku jatuh, kepada siapa cintaku tumbuh.

Saat ini aku belum mau memikirkannya. Biarkan mengalir saja. Toh aku sudah bergembira seperti sedia kala.

Kamu, terbanglah dengan sayap-sayapmu. Aku akan melihatmu, lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi. Sedang kamu melupakanku. Tak apa. Takdir memang begitu.

Semarang, 25 Maret 2020

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s