Takdir Sonya

girl-1822702_640
pixabay.com

Ucapan dokter itu masih terngiang di kepalaku. Dadaku mencelos dan rasanya sempit sekali. Seperti didesak oleh sesuatu yang sangat besar. Mataku panas. Ingin mengeluarkan air mata tapi tak bisa.

“Semua akan baik-baik saja,” lelaki berwajah putih tapi memiliki guratan-guratan tipis di sekitar mata itu mengusap tanganku. Menenangkan.

“Benar. Belum terlalu parah. Alat-alat medis sudah cukup canggih. Kita akan melakukan pengobatan kimia untuk mencegah sel-sel kankernya menyebar,” seloroh lelaki lain berbaju putih di belakang lelaki yang pertama.

Semua kalimat seperti suara-suara yang kasar dan memekakkan telinga. Meski berusaha ditenangkan dan dikuatkan, aku seperti tak percaya. Aku yang merasakan sendiri betapa nyerinya persendianku ketika malam tiba. Tenggerokkan yang sesak dan rasa sakit lain yang tak bisa kujelaskan karena saking banyaknya.

Awalnya kupikir karena aku terlalu kelelahan ketika bekerja dan merawat anak-anak di rumah. Tapi siapa sangka, kelelahan yang umumnya dialami oleh semua orang ini adalah salah satu gejala kanker darah. Aku terhenyak seketika.

Bagaimana nasib Ruli dan Dayang nanti? Mereka masih anak-anak. Bang Alan terlalu sibuk, tanpa bantuanku, tak mungkin ia bisa merawat dan memerhatikan mereka dengan baik.

Kemudian, tentang pengobatan untukku. Adakah Bang Alan punya tabungan lebih? Bagaimana jika ia tak punya? Atau bagaimana jika ia punya, tapi penyakitku gagal disembuhkan dan aku meninggal? Semua akan menjadi sia-sia. Mending itu untuk simpanan anak-anak kelak ketika masuk kuliah atau biaya lain. Aku tak mau merepotkan lebih banyak lagi.

Semua pikiran dan frasa ‘bagaimana jika’ menyeruak di kepalaku. Tak bisa dihentikan. Genangan air terasa mandek di kelopak mata. Pandanganku buram.

“Sonya sayang,” usapan lembut mendarat di pipi dan mataku. Pandanganku mulai jelas. Kulihat kedua bola mata yang biasanya kuat dan tegar itu memandangku. Air mata tergenang di sana.

“Emosimu harus stabil, kamu nggak boleh stres. Kata dokter, sel kankernya bisa menyebar seiring kondisi psikismu. Udah ya, nggak usah mikir macam-macam. Kamu akan sembuh,” ada kegetiran di balik suara Bang Alan.

“Jika memang kamu mau meninggalkanku, aku siap, jaga baik-baik Ruli dan Dayang. Katakan bahwa mereka berdua adalah matahariku,”

Kedua tangannya berpindah dari pipi ke punggung dan rambutku. Pipi kananku beradu dengan pipi kirinya.

“Sonya,” ucapnya halus tepat di depan telingaku. “Aku takkan meninggalkanmu.”

Aku memeluk balik tubuh yang cukup gempal itu. Sekuat-kuatnya. Air mataku akhirnya menderas di kemeja putihnya. Tangannya yang bertekstur cukup kasar, kini mengusapku dengan lembut. Sangat lembut. Untuk menahan suara parauku, kugigit kerah baju lelaki beraroma citrus yang amat kukenali ini. Kata-katanya mengalir lembut dari telinga menuju dada. Kehangatannya menjalar ke seluruh tubuh. Seperti menghentikan rasa sakit yang sedari tadi kurasakan.

Semarang, 26 Maret 2020

Cermin ini meminjam tokoh cerpen berjudul Seikat Mawar untuk Sonya karya Umi Rahayu di blognya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s