Surat (III)

milky-way-2695569_640
pixabay.com

Aku tumbuh sebagai bocah kalem tapi humoris di sebuah desa di kaki Gunung Slamet.

Sesekali, karena sebagian besar orang-orang di sana bermata pencaharian sebagai petani, aku turut meladang. Terik matahari dengan hawa dingin ala dataran tinggi membuat siang hari di sawah sejuk dan menyegarkan.

Pengalamanku berada di persawahan adalah pengalaman menakjubkan. Berada di sebuah ladang yang luas, yang ditanami padi atau sayur-mayur. Memandang lautan tanaman yang hijau berpadu dengan langit biru. Udara yang segar, bunyi air irigasi yang bergemericik, cericit burung-burung berburu makanan, juga orkestra alam lain, memandu masa kecilku yang sarat akan petualangan bersama alam.

Dulu, aku acap mengeluh ketika diminta membantu Bapak-Ibu, atau Paman-Bibi. Tapi tetap menikmati sajian alam yang tersedia dan bekal sederhana yang dibawa dari rumah, untuk dinikmati bersama ketika dzuhur tiba.

Hari ini, semua itu menjadi berbeda karena telah menjadi kenangan. Hidup terus berjalan, dan terus menambah kenangan. Kenangan itu berputar dengan kita sebagai pusatnya. Setidaknya itu yang kita pikirkan masing-masing.

Padahal, belakangan kita menyadari kenyataan bahwa kita tidak hidup di pusat alam semesta. Di alam semesta ini, kita justru berada di sebuah ‘benda langit’ yang berada di pojokan yang terlupakan, di antara milyaran benda langit lain yang jumlahnya bahkan bisa melebih manusia.

Kita hidup di sebuah tepian. Dan hanya bisa membayangkan alam semesta yang membentang begitu besar dan jauhnya dari tempat kita sekarang dan tempat kita bermula.

Aku mengingat lagi aktivitasku di tengah persawahan. Membayangkan aku ketika memandang sekitar. Dan mempertanyakan apa sebenarnya arti hidup kita. Tiap hari mencangkul, membungkuk untuk mencabuti rumput liar, sesekali memupuk, kemudian menunggu musim panen tiba, sembari terus merawatnya dengan keringat yang tiada habis.

Atau hidup kita sekarang di sebuah kota yang tak kalah sibuknya. Berangkat ke kantor di pagi hari, mengerjakan sekian banyak tuntutan pekerjaan dan pulang sore hari. Berteman jalanan dan kemacetan, lampu merah, hiruk pikuk kendaraan, dan suara-suara jalang lainnya.

Apa sebenarnya arti hidup kita di tengah kesibukan ini? Di tengah suara dan aktivitas yang tak berkesudahan? Sementara dunia membentang sedemikian jauh dan besarnya, dan kita hanya berada di sebuah pojokan yang terlupakan, dan kita bahkan jarang membayangkan fenomena gigantis ini. Alih-alih membayangkannya, kita justru acap terjebak di pikiran sendiri. Di kesunyian dan kesepian kita sendiri. Jangankam memeluk alam semesta, memeluk diri sendiri saja kita selalu gagal.

Mengingat perjalananku, membuatku memikirkan kembali soal-soal gigantis hingga mikroskopis. Soal-soal fisik hingga psikis. Sebuah realitas kompleks yang saling bertautan, saling saut-sengkarut, saling membangun di antara kita semua: rasa sunyi, sakit, duka, suka, bahagia, rasa syukur kita dipertemukan dengan orang-orang, masa lalu yang menjelma hantu-hantu dan mimpi buruk, masa depan yang tak tentu dan mengkhawatirkan, rencana dan impian yang ingin kita capai. Realitas itu dibangun berdasar hubungan kita dengan orang lain, dengan alam di sekitar kita. Berdasar obrolan riuh-rendah di kedai kopi, ayat-ayat di kitab suci yang mengilhami, musik yang kita perdengarkan, buku-buku yang kita baca. Berdasar waktu-waktu yang berlalu di sebuah sekolah, ruang-ruang laboratorium, panggung teater, gazebo-gazebo. Berdasar jejak langkah kita di sebuah pantai pasir putih yang bersih, di tanah lembek yang kita lewati menuju sebuah air terjun, setelah berfoto-foto, memandang landscape yang tersedia, atau sekadar menceburkan kaki atau tubuh kita di air-air yang dilahirkan oleh alam.

Kita, hidup kita, arti, nilai dan pelbagai macam hal lainnya yang kita cari takkan bertahan lama. Orang-orang lahir dan mati tiap hari. Kita hanya debu-debu yang mengapung di udara, atau hinggap di dinding-dinding atau di mana pun. Kita hanya buih di antara milyaran buih lainnya yang terombang-ambing di samudera bernama alam semesta. Kita takkan bertahan lama.

Maka, bersedih dan bahagialah biasa saja. Carilah arti hidup, atau apapun. Tapi, kita takkan bertahan lama.

Semarang, 28 Maret 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s